TERASBANDUNG.COM - Kebiasaan meninggalkan botol air minum di dalam mobil yang terparkir di bawah terik matahari kerap dianggap sepele. Banyak pengendara menyimpan air mineral di dalam kendaraan agar bisa diminum kembali ketika merasa haus saat bepergian.

Namun, kebiasaan meninggalkan botol air di dalam mobil panas menimbulkan pertanyaan mengenai keamanan air minum dan kondisi kemasannya. Apakah air tersebut masih aman dikonsumsi setelah terpapar suhu tinggi selama berjam-jam?

Berdasarkan penjelasan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), perpindahan komponen dari kemasan pangan ke dalam makanan atau minuman dapat meningkat akibat suhu tinggi dan waktu kontak yang lama. Meski demikian, anggapan bahwa air minum dalam botol plastik yang tertinggal di mobil otomatis menjadi beracun atau menyebabkan kanker tidak tepat.

1. Suhu Panas Mobil Dapat Meningkatkan Risiko Perpindahan Zat dari Kemasan

Mobil yang terparkir di bawah sinar matahari dapat mengalami peningkatan suhu di dalam kabin. Kondisi tersebut membuat botol air minum ikut terpapar panas, terutama ketika kendaraan tidak berada di tempat teduh.

BPOM menjelaskan bahwa setiap jenis kemasan pangan berpotensi melepaskan sebagian komponen penyusunnya ke dalam makanan atau minuman. Proses perpindahan tersebut dapat meningkat apabila kemasan terpapar suhu tinggi dalam waktu lama.

Namun, besarnya perpindahan zat bergantung pada jenis bahan kemasan, karakteristik produk, suhu, dan durasi paparan. Karena itu, tidak tepat menyimpulkan bahwa setiap botol air mineral yang tertinggal di dalam mobil pasti mengandung zat berbahaya dalam jumlah yang membahayakan kesehatan.

2. Benarkah Botol Air Mineral yang Terkena Panas Mengandung BPA?

Informasi mengenai bisfenol A atau BPA sering dikaitkan dengan botol plastik yang terpapar panas. Padahal, tidak semua jenis plastik menggunakan bahan kimia tersebut.

Menurut penjelasan Badan Pengawas Obat dan Makanan Thailand yang dipublikasikan pada September 2026, botol air minum berbahan PET (polyethylene terephthalate) tidak menggunakan BPA sebagai bahan baku pembuatannya. BPA digunakan dalam pembuatan jenis plastik tertentu, seperti polikarbonat.

Penjelasan ini penting karena botol air mineral sekali pakai umumnya menggunakan plastik PET.

BPOM Indonesia juga menjelaskan bahwa keamanan kemasan pangan harus dinilai berdasarkan jenis bahan, standar yang berlaku, serta hasil pengawasan dan pengujian. Dengan demikian, masyarakat sebaiknya tidak langsung menyamakan semua jenis botol plastik atau menganggap setiap botol yang terkena panas pasti melepaskan BPA.

3. Botol yang Sudah Dibuka Perlu Lebih Diperhatikan

Selain paparan panas, kondisi kebersihan botol juga perlu diperhatikan.

Ketika seseorang minum langsung dari botol, mikroorganisme dari mulut dapat berpindah ke bagian mulut botol dan air di dalamnya. Jika botol tersebut dibiarkan lama dalam kondisi hangat, kualitas kebersihan air semakin perlu diperhatikan.

Risiko kontaminasi juga bergantung pada cara botol digunakan, kebersihan tangan, kondisi tutup, dan lamanya penyimpanan.

Oleh karena itu, air minum yang sudah dibuka sebaiknya tidak dibiarkan berlama-lama di dalam mobil panas. Perhatikan pula perubahan bau, rasa, tampilan, atau kondisi kemasan sebelum memutuskan untuk mengonsumsinya.

Meski begitu, air yang terlihat jernih dan tidak berbau belum tentu menjamin bebas dari seluruh kontaminan.

4. Apakah Air Minum dalam Botol Plastik yang Terpapar Panas Bisa Menyebabkan Kanker?

Klaim bahwa meminum air dari botol plastik yang tertinggal di mobil panas secara langsung menyebabkan kanker perlu disikapi dengan hati-hati.

BPOM pernah mengklarifikasi isu bahwa air kemasan yang ditinggalkan di dalam mobil sangat berbahaya. Dalam penjelasan resminya pada 16 Maret 2018, BPOM menyatakan bahwa isu tersebut tidak benar dalam bentuk klaim yang beredar, termasuk anggapan bahwa dioksin dihasilkan dari kemasan plastik yang terkena panas di dalam mobil.

BPOM juga menjelaskan bahwa tingkat paparan dari sejumlah jenis kemasan plastik yang dikaji berada dalam taraf aman berdasarkan hasil kajian saat itu.

Artinya, risiko keamanan air minum tidak dapat ditentukan hanya dari fakta bahwa botol pernah berada di dalam mobil panas. Jenis kemasan, kondisi penyimpanan, durasi paparan, dan hasil pengujian merupakan faktor yang perlu dipertimbangkan.

Masyarakat tetap disarankan menghindari penyimpanan air minum dalam kondisi panas berlebihan, tetapi tidak perlu langsung panik atau mempercayai klaim penyakit yang belum terbukti.

5. Tips menyimpan Air Minum di Mobil agar Lebih AMan

Untuk menjaga kualitas air minum selama perjalanan, ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan.

Pertama, hindari meninggalkan botol air di dalam mobil yang terparkir di bawah terik matahari. Jika harus menyimpan persediaan air, usahakan menempatkannya di lokasi yang lebih sejuk dan tidak terkena panas secara langsung.

Kedua, gunakan botol minum yang memang dirancang untuk digunakan berulang kali. Pilih produk dengan bahan yang sesuai untuk kontak dengan pangan dan ikuti petunjuk penggunaan serta perawatannya.

Ketiga, jangan menggunakan kembali botol air mineral sekali pakai secara berulang tanpa memperhatikan kondisi dan kebersihannya. Botol yang penyok, rusak, berubah bentuk, atau mengalami kerusakan lain sebaiknya tidak digunakan lagi.

Keempat, segera konsumsi atau simpan kembali air yang telah dibuka dengan cara yang sesuai. Hindari membiarkan botol terbuka atau digunakan bersama-sama dalam waktu lama, terutama ketika berada di lingkungan panas.

Kelima, periksa kondisi air dan kemasannya. Jika botol bocor, berubah bentuk secara nyata, atau air menunjukkan perubahan yang tidak biasa, sebaiknya jangan dikonsumsi.

Kebiasaan meninggalkan botol air di dalam mobil panas sebaiknya dihindari, terutama jika kendaraan terparkir di bawah sinar matahari selama berjam-jam. Suhu tinggi dan durasi penyimpanan dapat memengaruhi kemasan, sementara botol yang sudah dibuka juga berpotensi mengalami kontaminasi.

Namun, masyarakat perlu memahami bahwa tidak semua botol plastik mengandung BPA dan tidak ada dasar untuk menyimpulkan bahwa setiap air mineral yang tertinggal di mobil otomatis beracun atau menyebabkan kanker.

Langkah paling bijak adalah menyimpan air minum di tempat yang sejuk, menjaga kebersihan botol, mengikuti petunjuk penggunaan kemasan, dan tidak menyebarkan klaim kesehatan tanpa bukti yang memadai.