TERASBANDUNG - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung menemukan sejumlah persoalan higiene dan sanitasi saat memeriksa sebuah restoran di Jalan Pasirkaliki yang dikaitkan dengan dugaan keracunan makanan.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Bandung Dewi Primasari mengatakan, pemeriksaan menemukan beberapa aspek yang masih perlu diperbaiki.

“Secara umum dari pemeriksaan awal memang masih ada beberapa hal terkait higiene dan sanitasi yang perlu diperbaiki lagi oleh pihak restoran,” ujar Dewi saat dihubungi, Selasa 6 Oktober 2026.

Petugas menyoroti penataan bahan makanan dan pemisahan bahan segar, bahan kering, serta bahan kimia. Sistem penyimpanan FIFO dan FEFO juga dinilai belum diterapkan secara jelas.

Baca Juga : Ada Potensi Kontaminasi, Pemkot Bandung Bongkar Temuan Pemeriksaan Restoran 88 Seoul

“Masih perlu diperbaiki pemisahan-pemisahannya. Kemudian karena lokasinya tidak begitu luas, perlu penataan ulang,” katanya.

Dinkes juga meminta pekerja yang menangani makanan menggunakan perlindungan diri seperti masker dan hair net.

“Dari faktor perilaku, penjamah makanan juga perlu diperbaiki. Pelindung dirinya, masker, kemudian yang tidak berkerudung atau laki-laki menggunakan hair net,” tuturnya.

Pengawasan restoran akan diperketat bersama puskesmas karena adanya laporan dugaan keracunan.

“Biasanya kalau ada kasus seperti ini kita agak lebih intensif pemantauannya,” kata Dewi.

Hingga Selasa sore, 24 kasus telah dilaporkan kepada Dinkes melalui puskesmas dan kanal media sosial. Jumlah tersebut masih dapat berubah karena proses verifikasi terus dilakukan.

“Kami juga masih update terus. Sampai tadi sore yang sudah terlaporkan kepada kami melalui berbagai jalur itu 24 kasus,” ujarnya.

Gejala yang dilaporkan meliputi sakit perut, mual, muntah dan diare, dengan waktu muncul sekitar dua hingga 12 jam setelah mengonsumsi makanan.

Baca Juga : Banjir Bandung Kembali Mengintai, DPRD Soroti Masalah yang Berawal dari Bandung Utara

Dinkes juga telah mendatangi restoran dan konsumen untuk mengecek kondisi mereka.

“Kita melakukan investigasi langsung ke lapangan, ke pengelola resto, kemudian ke konsumen yang melaporkan. Kita cek sejauh mana kondisinya sekarang dan disarankan berobat,” jelas Dewi.

Namun, pemeriksaan sampel makanan terkendala karena restoran tidak menyimpan sampel makanan.

“Idealnya itu seharusnya ada pemeriksaan sampel, tetapi ternyata restoran ini tidak menyimpan sampel. Jadi tadi masih sebatas edukasi,” katanya.

Dinkes masih melanjutkan penelusuran dan mengimbau warga yang mengalami gejala setelah makan di restoran tersebut agar segera melapor atau memeriksakan diri ke puskesmas terdekat.***