TERASBANDUNG.COM - Pemandangan Kawah Putih di Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, berubah cukup drastis pada musim kemarau 2026. Permukaan air danau kawah terlihat menyusut dan meninggalkan area tepian yang sebelumnya tertutup air.
Berdasarkan laporan ANTARA pada 4 September 2026, air Kawah Putih dilaporkan menyusut hingga sekitar 70 meter dari tepi danau. Pengelola menyebut kondisi tersebut mulai terlihat sejak awal Agustus 2026 dan berkaitan dengan kemarau panjang.
Fenomena tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan, bagaimana sebenarnya proses penyusutan air di Kawah Putih Ciwidey?
Bukan Kawahnya yang Mengecil, tetapi Permukaan Air yang Menyusut
Istilah "Kawah Putih menyusut" yang beredar perlu diluruskan. Berdasarkan laporan yang tersedia, bukan ukuran cekungan kawah yang tiba-tiba mengecil, melainkan permukaan air danau yang mengalami penurunan.
Foto udara yang dipublikasikan ANTARA menunjukkan air kini lebih terkonsentrasi di bagian tengah danau. Sementara area tepian yang sebelumnya tergenang berubah menjadi daratan yang didominasi batuan dan material permukaan.
Dengan demikian, perubahan yang terlihat dari permukaan adalah mundurnya garis air, bukan perubahan bentuk kawah secara mendadak.
Awalnya Terjadi Sejak Awal Agustus 2026
Pengelola Kawah Putih menyebut penyusutan mulai terlihat sejak awal Agustus 2026.
Pada 25 Agustus, detikJabar juga melaporkan kondisi air danau hanya tersisa di bagian tengah, sementara bagian pinggir memperlihatkan hamparan batu kapur yang sebelumnya berada di bawah air.
Memasuki awal September, jarak mundurnya permukaan air disebut telah mencapai sekitar 70 meter dari tepian danau.
Kemarau Panjang Jadi Faktor Utama
Penyebab yang disampaikan pengelola adalah kemarau panjang. Ketika hujan berkurang dalam waktu cukup lama, pasokan air yang masuk ke sistem danau juga ikut berkurang.
Pada saat bersamaan, air tetap dapat hilang melalui proses alami seperti penguapan dan pelepasan air melalui sistem bawah permukaan. Jika jumlah air yang keluar lebih besar dibandingkan air yang masuk, maka volume air danau secara perlahan akan turun.
Kondisi tersebut menjadi semakin terlihat ketika berlangsung dalam waktu berminggu-minggu, terutama pada kawasan dengan curah hujan rendah.
Kondisi Ini Sejalan dengan Prediksi BMKG
Fenomena di Kawah Putih terjadi ketika Jawa Barat memang berada dalam periode musim kemarau.
BMKG sebelumnya memprediksi sebagian besar wilayah Jawa Barat memasuki musim kemarau pada Mei hingga Juni 2026, dengan puncak musim kemarau umumnya terjadi pada Agustus dan sebagian wilayah dapat berlanjut hingga September. BMKG juga memperkirakan curah hujan berada pada kategori rendah hingga menengah dan cenderung di bawah normal.
Dalam peringatan dini kekeringan meteorologis dasarian I September 2026, Kabupaten Bandung bahkan tercatat dalam kategori awas bersama sejumlah daerah lain di Jawa Barat.
Artinya, penurunan muka air di Kawah Putih tidak berdiri sendiri, tetapi terjadi dalam konteks kondisi atmosfer yang memang lebih kering.
Mengapa Air Bisa Mundur Puluhan Meter?
Mundurnya garis air hingga puluhan meter tidak selalu berarti kedalaman air turun 70 meter.
Angka 70 meter yang dilaporkan pengelola merujuk pada jarak mundurnya permukaan air dari tepian danau. Bentuk dasar danau yang tidak rata membuat penurunan volume atau ketinggian air dapat menyebabkan garis pantai danau bergerak cukup jauh.
Sederhananya, ketika permukaan air turun, bagian dasar danau yang relatif landai di sekitar tepian akan muncul terlebih dahulu. Karena itu, secara visual kawasan yang sebelumnya terlihat seperti danau luas dapat berubah menjadi area daratan yang jauh lebih lebar.
Mengapa Perubahannya Terlihat Sangat Drastis?
Kawah Putih merupakan danau kawah yang berada di kawasan Gunung Patuha. Karena karakter bentang alamnya berupa cekungan kawah, perubahan muka air akan langsung terlihat pada garis tepian danau.
Foto udara yang dirilis ANTARA memperlihatkan kontras antara air yang masih bertahan di bagian tengah dengan area tepian yang kini terbuka. Kondisi tersebut membuat perubahan lanskap Kawah Putih terlihat jauh lebih dramatis dibandingkan sekadar penurunan muka air beberapa sentimeter atau meter.
Fenomena serupa juga dapat terlihat dari darat. Pengunjung kini dapat melihat area batuan yang sebelumnya berada di bawah permukaan air.
Apakah Penyusutan Kawah Putih Berbahaya?
Penyusutan air akibat kemarau tidak otomatis berarti terjadi aktivitas vulkanik berbahaya.
Sejauh informasi yang tersedia dalam laporan terkini, penyusutan permukaan air Kawah Putih dikaitkan dengan kemarau panjang. Tidak ada keterangan dalam sumber yang diperiksa yang menyatakan bahwa penyusutan 70 meter tersebut merupakan tanda letusan atau peningkatan aktivitas vulkanik.
Namun, karena Kawah Putih merupakan bagian dari kawasan vulkanik Gunung Patuha, perubahan kondisi lingkungan tetap perlu dipantau oleh pengelola dan instansi terkait.
Badan Geologi sendiri memiliki dokumentasi pemeriksaan Kawah Putih Gunung Patuha sejak lama, termasuk kajian terkait kondisi air kawah dan aktivitas gunung api.
Wisatawan Masih Bisa Melihat Kawah Putih
Meski permukaan air mengalami penyusutan cukup jauh, aktivitas wisata di Kawah Putih masih berlangsung.
Di berbagai media sosal masih terlihat wisatawan tetap datang untuk menikmati pemandangan kawasan tersebut. Bahkan, area tepian yang sebelumnya tertutup air kini memberikan tampilan berbeda karena hamparan batuan menjadi lebih terlihat.
Meski demikian, perubahan kondisi lingkungan membuat pengunjung tetap perlu mengikuti arahan pengelola dan tidak memasuki area yang dilarang.
Penyusutan Bisa Berubah Jika Hujan Kembali Meningkat
Fenomena ini juga tidak bisa langsung dianggap sebagai perubahan permanen.
Jika curah hujan kembali meningkat dan pasokan air ke kawasan danau bertambah, permukaan air berpotensi naik kembali. Namun, seberapa cepat pemulihannya sangat bergantung pada jumlah hujan, durasi musim hujan, kondisi daerah tangkapan air, penguapan, serta keseimbangan air di sistem danau.
Karena itu, kondisi Kawah Putih perlu dilihat sebagai fenomena hidrologis yang dapat berubah mengikuti kondisi musim.
Kesimpulan
Penyusutan yang terjadi di Kawah Putih Ciwidey pada 2026 pada dasarnya merupakan penurunan permukaan air danau, bukan kawah yang mengecil secara fisik.
Prosesnya berkaitan dengan berkurangnya pasokan air selama kemarau panjang. Ketika air yang masuk lebih sedikit sementara kehilangan air melalui proses alami tetap berlangsung, volume dan permukaan danau turun. Akibatnya, garis air mundur dan bagian tepian yang sebelumnya tergenang mulai terlihat.
Pada awal September 2026, pengelola melaporkan permukaan air telah mundur sekitar 70 meter dari tepi danau. Kondisi tersebut menjadi salah satu gambaran nyata dampak musim kemarau terhadap kawasan wisata alam di Kabupaten Bandung.