Kresek Bekas Disulap Jadi Tas hingga Dompet, Kreativitas Warga Bandung Ini Bikin Kagum

Kresek Bekas Disulap Jadi Tas hingga Dompet, Kreativitas Warga Bandung Ini Bikin Kagum Masagi Cibogo Bandung Ubah Kantong Kresek Bekas Jadi Tas, Dompet dan Produk Ramah Lingkungan. (Bandung.go.id)

TERASBANDUNG.COM - Kantong plastik bekas yang biasanya berakhir di tempat sampah ternyata masih bisa memiliki kehidupan kedua.

Hal itu dibuktikan Komunitas Masagi Cibogo, Bandung, yang mengubah limbah kresek menjadi aneka produk fungsional sekaligus bernilai ekonomi.

Berbagai barang seperti dompet, tas belanja, tas laptop hingga alas duduk dibuat dari kantong kresek bekas yang sebelumnya tidak lagi digunakan.

Produk-produk tersebut diperkenalkan kepada masyarakat dalam Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade Sungai Cikapundung, Sabtu (15/8/2026).

Komunitas yang bermarkas di Kampung Cibogo, RT 04 RW 04, Kelurahan Sukawarna, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung, memanfaatkan festival tersebut untuk memperlihatkan bahwa sampah rumah tangga juga dapat diolah menjadi sesuatu yang memiliki manfaat.

Baca Juga : Gang Stones Bandung Rayakan HUT RI ke-81 dengan Mural Kemerdekaan Bernuansa Rolling Stones

Anggota Komunitas Masagi Cibogo, Enung Siti Oliah, mengatakan proses pengolahan dilakukan dengan menganyam kantong-kantong plastik bekas hingga membentuk lembaran yang kemudian dapat dibuat menjadi berbagai jenis produk.

“Kami menjual produk olahan dari limbah kantong kresek bekas. Kami olah, anyam, dan setelah anyaman jadi, dibuat menjadi produk-produk berguna,” ujar Enung.

Menurut Enung, gerakan tersebut tidak semata-mata bertujuan menghasilkan barang untuk dijual. Komunitas juga ingin membangun kesadaran agar masyarakat tidak sepenuhnya menyerahkan persoalan sampah kepada tempat pembuangan.

“Semata-mata hanya ingin salah satunya itu untuk mengampanyekan bahwa warga masyarakat harus bertanggung jawab atas sampahnya,” ungkapnya.

Dari sejumlah produk yang dipasarkan, dompet berbahan anyaman kresek menjadi salah satu barang yang paling diminati. Selain itu, Masagi Cibogo juga memproduksi tas belanja, tas laptop, hingga lembaran anyaman berukuran sekitar 40×40 sentimeter yang dapat digunakan sebagai alas duduk maupun tikar.

Harga produk cukup beragam. Barang tertentu ditawarkan mulai Rp75.000, sementara produk dengan tingkat pengerjaan lebih rumit dapat mencapai lebih dari Rp200.000.

Nilai jual tersebut tidak terlepas dari proses pembuatannya yang membutuhkan waktu dan ketelitian. Sebagian besar pekerjaan masih dilakukan dengan tangan, mulai dari menganyam bahan hingga menjahitnya menjadi produk siap pakai.

Baca Juga : Kaulinan Zaman Baheula Kembali Dimainkan, Begini Cara Festival Tamansari Kenalkan Budaya Sunda

Durasi pembuatannya pun tidak seragam. Beberapa jenis anyaman dapat diselesaikan dalam waktu sehari, sedangkan produk tertentu membutuhkan pengerjaan hingga berminggu-minggu.

“Kalau untuk menganyam, ada yang bisa sehari, ada yang bisa seminggu. Khususnya untuk kantong belanja itu kurang lebih dua mingguan untuk sampai jadi, dari mulai menganyam sampai jadi tas seperti ini,” jelas Enung.

Untuk membuat tas belanja, misalnya, bagian utama tas bisa membutuhkan waktu sekitar sepekan hanya untuk proses penganyaman. Sementara bagian lain, seperti tali dan alas, dibuat menggunakan cetakan agar ukuran dan bentuknya sesuai.

Apa yang dilakukan Masagi Cibogo menunjukkan bahwa persoalan sampah dapat dihadapi melalui pendekatan kreatif. Limbah plastik yang sulit terurai tidak hanya dikurangi volumenya, tetapi juga diubah menjadi barang yang bisa digunakan kembali.

Di sisi lain, kegiatan tersebut membuka peluang pemberdayaan ekonomi masyarakat. Sampah yang sebelumnya tidak memiliki nilai dapat menjadi bahan baku produk kreatif sekaligus menjadi media edukasi mengenai tanggung jawab pengelolaan lingkungan.***

Penulis: Ely Kurniawati | Editor: Dadi Mulyanto

Berita Terkini