Garut Jadi Panggung Baru Sepak Bola Putri, 1.516 Siswi Ramaikan MilkLife Soccer Challenge 2026

Garut Jadi Panggung Baru Sepak Bola Putri, 1.516 Siswi Ramaikan MilkLife Soccer Challenge 2026 Keseruan MilkLife Soccer Challenge Garut Seri 1 2026 - 2027. Jadi salah satu dari tiga kota baru penyelenggaraan MLSC musim ini, MLSC Garut diikuti 1.516 peserta dari 104 SD dan MI. (Ist)

TERASBANDUNGCOM - Digelar untuk pertama kalinya di Garut, Milklife Soccer Challange (MLSC) Garut Seri 1 2026-2027 yang berlqngsung di Lapangqn Dalem Bintang RAA Adiwijaya dan Stadion Jayaraga diserbu peserta.

Sebanyak 1.516 peserta  dari 104 Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Garut dan sekitarnya, ikut ambil bagian pada kegiatan yang diinisiasi oleh Bakti Olahraga Djarum Foundation bersama Milklife.

Perwakilan Bakti Olahraga Djarum Foundation, Satia Chandra Wiguna mengatakan pemilihan Garut untuk menjaring bibit berkualitas, merupakan langkah strategis guna mengakomodir tingginya minat para siswi di wilayah Jawa Barat. Terbukti, di seri pertama musim ini, MLSC Garut diramaikan 28 tim KU 10 dan 111 tim KU 12.

“Pada seri-seri sebelumnya, animo di regional Bandung sangat tinggi. Untuk mengakomodir hal tersebut sekaligus mempermudah akses bagi para peserta, kami memutuskan memecah regional Jawa Barat menjadi dua titik penyelenggaraan, yakni di Bandung dan Garut. Kenapa Garut? karena punya infrastruktur yang lebih memadai dibanding wilayah lain di Priangan Timur. Kami berharap langkah ini dapat menjaring lebih banyak lagi bibit-bibit pesepakbola putri potensial dari Garut dan sekitarnya,” ujarnya.

Sebelum Garut Seri 1 2026 - 2027 bergulir, MLSC sudah lebih dulu rampung dilaksanakan di Bandung pada 27 Oktober sampai 1 November 2026. MLSC Bandung Seri 1 diikuti 1.517 atlet dari 78 sekolah. Dari sisi kualitas, hadirnya juara baru di Bandung juga membuktikan peta kekuatan tim yang merata. Lebih lanjut, Chandra berharap di MLSC Garut, lahir tim yang menjadi kekuatan baru di wilayah Jawa Barat.

“Pekan lalu, penyelenggaraan MilkLife Soccer Challenge Bandung Seri 1 baru saja rampung dengan partisipan tinggi. Dan hal yang paling membanggakan adalah lahirnya juara baru di Bandung, yang membuktikan bahwa pembinaan berjalan merata dan persaingan semakin kompetitif. Melihat tren positif tersebut, kami sangat berharap di MLSC Garut perdana ini juga akan bermunculan sekolah-sekolah yang tampil mengejutkan sebagai kekuatan baru sepak bola putri di Jawa Barat,” imbuh Chandra. 

Lebih Dekat, Lebih Semangat

Sementara itu, Pelatih Kepala MI Ma’arif As Shidiqiyyah, Muhammad Marhum Sidik Bahroji menyebut anak asuhnya menyambut gembira untuk berkompetisi di tanah kelahiran mereka. Marhum bercerita dalam empat seri MLSC Bandung sebelumnya, tim mereka setiap harinya harus menempuh jarak lebih dari 60 kilometer untuk berlaga.

“Yang pasti para siswi sangat senang dan bersemangat sekali dengan hadirnya MLSC di Garut. Secara domisili, jarak antara sekolah atau tempat tinggalnya dekat ke lapangan, yang otomatis mereka masih fresh ketika bertanding. Karena ketika kami ikut di regional Bandung, kami harus berangkat jam 03.00 pagi dari Garut, dan langsung bertanding. Setelahnya kami pulang, esok harinya berangkat lebih awal lagi,” katanya.

Lebih lanjut, Marhum menjelaskan hadirnya MLSC di Garut tak hanya memudahkan akses timnya untuk berkompetisi, tapi juga kembali menumbuhkan semangat para siswi untuk mengejar mimpi mereka menjadi pesepakbola profesional di masa depan. Terbukti, MI Ma’arif As Shidiqiyyah mengirim 72 siswi untuk berkompetisi di KU 8, KU 10 dan KU 12.

“Saya lihat para pemain jadi semangat lagi, karena sebelumnya mereka sudah sempat mau menyerah. Bukannya nggak semangat ikut MLSC, tapi karena lelah kalau pulang-pergi setiap hari. Meskipun secara prestasi masih harus banyak yang ditingkatkan, tapi mereka punya cita-cita di sepakbola. Kami pihak sekolah berharap dengan adanya MLSC di Garut, para orang tua juga melihat dan lebih mendukung anaknya menggeluti sepak bola. Karena bagi kami MLSC itu jenjang karirnya sudah jelas. Apalagi dari Jawa Barat banyak talenta-talenta yang sekarang udah di timnas, kan, itu jadi motivasi juga buat anak-anak,” jelasnya.

Senada, Bek SD 1 Mekarmukti KU 12, Berlinda Allina Syafitri juga menjadikan MLSC Garut sebagai wadah untuk mengejar mimpi menjadi pesepakbola putri profesional. Bahkan, ia rela pindah sekolah dari Kudus, Jawa Tengah ke Garut agar fokus menjalani latihan rutin bersama tim kelompok usia Akademi Persib Bandung. Berlin, sapaan akrabnya berjanji menunjukkan bakat terbaiknya di turnamen, berharap dilirik oleh tim talent scouting MLSC agar bisa ke jenjang kompetisi yang lebih tinggi.

“Aku pindah dari Kudus ke Garut supaya bisa lebih menekuni sepak bola. Aku bilang sama ayah, ‘ayah, aku boleh ngekos nggak?’ alhamdulillah ayah kasih izin kalau aku memang mau kejar cita-cita jadi pemain sepak bola. Aku mengidolakan kak Nafeeza Ayasha Nori dan berharap bisa juga masuk ke timnas nantinya. Makanya di MLSC Garut ini aku ingin menang bersama tim sekolah dan terpilih mewakili Garut ke ajang MLSC All-Stars tahun depan,” harapnya. 

Tak hanya turnamen dengan skema 7 vs 7, MilkLife Soccer Challenge Garut Seri 1 2026 - 2027 juga kembali menyajikan berbagai uji ketangkasan bagi para siswi melalui Skill Challenge berupa dribbling, passing & control, three on three, shoot on target hingga penalty shoot. Kelima tantangan tersebut dihadirkan guna melihat bakat-bakat muda mengenai kemampuan dasar sepak bola untuk peserta KU 10 & KU 12.

Selain itu, ada pula Festival SenengSoccer untuk KU 8 yang diikuti oleh 71 siswi, sebagai ajang pengenalan sepak bola putri khusus untuk anak usia 6 - 8 tahun yang berfokus pada keceriaan tanpa adanya pertandingan kompetitif.

Melalui Festival SenengSoccer, para siswi diajak mengikuti berbagai kegiatan interaktif yang dikemas dalam latihan teknik dasar bermain sepakbola seperti lari zig zag melewati rintangan, lemparan ke target, menggiring bola, melompat, dan menendang bola ke gawang.**"

Penulis: Ely Kurniawati | Editor: Ely Kurniawati

Memuat Terkini...