Foto: Ilustrasi
TERASBANDUNG.COM - Kematian massal ikan kembali terjadi di Waduk Saguling, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat. Sebanyak 22,12 ton ikan mas milik pembudidaya Keramba Jaring Apung (KJA) dilaporkan mati dalam kurun waktu 31 Oktober hingga 2 November 2026.
Peristiwa tersebut tersebar di tujuh titik keramba. Kematian ikan diduga dipicu penurunan kualitas air akibat perubahan cuaca ekstrem dan fenomena upwelling atau umbalan.
Dampak paling parah terjadi di Blok Ugrem, Kecamatan Cililin. Di lokasi tersebut, jumlah ikan mas yang mati mencapai sekitar 15 ton.
Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) Kabupaten Bandung Barat, Wiwin Aprianti, menjelaskan bahwa hujan yang turun terus-menerus diduga menyebabkan limpasan air sungai membawa material limbah menuju badan Waduk Saguling.
Kondisi tersebut membuat air waduk menjadi keruh dan kualitas perairan menurun. Akibatnya, kadar oksigen terlarut yang dibutuhkan ikan untuk bertahan hidup ikut berkurang.
Kematian Ikan Tersebar di Tujuh Titik KJA
Berdasarkan pendataan dari pengepul dan pembudidaya, kematian ikan terjadi di sejumlah kawasan keramba jaring apung di Waduk Saguling.
Berikut rincian jumlah ikan yang dilaporkan mati:
Mengenal Fenomena Upwelling yang Memicu Ikan Mati Massal
Fenomena upwelling atau umbalan merupakan pergerakan massa air dari lapisan bawah menuju permukaan. Dalam kondisi tertentu, pergerakan ini dapat membawa endapan lumpur, sisa pakan, bahan organik, dan material lain yang berada di dasar perairan.
Perubahan kondisi air tersebut dapat memengaruhi suhu, kualitas air, serta kadar oksigen terlarut. Jika oksigen turun drastis, ikan yang dibudidayakan di dalam keramba bisa mengalami stres hingga mati.
Fenomena ini menjadi salah satu ancaman bagi pembudidaya ikan di waduk, terutama ketika terjadi perubahan cuaca ekstrem atau peralihan musim.
Dispernakan Minta Bangkai Ikan Segera DIangkat
Untuk mencegah dampak yang lebih luas, Dispernakan KBB meminta para pembudidaya segera melakukan penanganan terhadap ikan yang mati maupun yang masih bertahan hidup.
Ikan yang masih hidup disarankan dipisahkan dari ikan mati. Selanjutnya, ikan tersebut dapat dipindahkan ke wadah pemeliharaan terpisah untuk dibesarkan kembali atau segera dipanen.
Sementara itu, bangkai ikan harus segera diangkat dari area keramba agar tidak membusuk dan memperburuk pencemaran perairan.
Ikan yang sudah tidak layak konsumsi juga perlu dikubur di lokasi yang jauh dari sumber air dan permukiman warga. Adapun ikan yang masih memenuhi standar keamanan pangan dapat dimanfaatkan untuk konsumsi dengan penanganan yang tepat.
Pembudidaya Diimbau Kurangi Kepadatan Ikan
Dispernakan KBB turut mengingatkan pembudidaya agar meningkatkan kewaspadaan ketika terjadi perubahan cuaca dan kondisi perairan.
Beberapa langkah antisipasi yang dianjurkan di antaranya mengurangi kepadatan ikan melalui panen sebagian, membatasi pemberian pakan menjelang potensi umbalan, serta menghentikan pemberian pakan sementara ketika fenomena tersebut berlangsung.
Jika memungkinkan, pembudidaya juga dapat menggunakan aerasi tambahan untuk membantu menjaga ketersediaan oksigen di wadah pemeliharaan.
Pemantauan kualitas air dan kondisi ikan secara berkala menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko kematian massal berikutnya.
Peristiwa di Waduk Saguling ini kembali menjadi pengingat bahwa perubahan cuaca ekstrem dan penurunan kualitas air dapat berdampak besar terhadap sektor perikanan. Bagi para pembudidaya, kondisi tersebut bukan hanya mengancam hasil panen, tetapi juga keberlangsungan mata pencaharian mereka.
Penulis: Ginevara | Editor: Ginevara